Pendidikan

Merumuskan Kriteria Guru Ideal

Kriteria Guru Ideal harusnya bukan sekedar banyak disukai. Tapi kriteria tersebut harus mencakup kompetensi profesionalitas dan juga kemampuan inspiratif seorang guru.

Written by Budi Hariyadi · 2 min read >

Bagaimana sosok guru ideal di mata kamu? Tentu kriterianya bisa berbeda antara kamu dan temanmu. Ya, demikianlah. Tipologi guru ideal bisa berbeda sesuai persepsi masing-masing. Namun kriteria yang dominan biasanya berdasar faktor like dan dislike. Maka kriterianya pun tak jauh dari soal membuat suka, seperti: menyenangkan, lucu, tidak pernah marah, perhatian, atau bisa bergaya anak muda. Singkatnya penilaian pun mengerucut pada kriteria: yang paling disukai. Jika seorang guru paling disukai siswa maka dianggap layak mendapat predikat sebagai guru ideal.

Tuntutan berbagai pihak agar guru menjadi sosok ideal tentu wajar dan justru bagus. Karena hal itu bisa dianggap sebagai bentuk perhatian dan apresiasi terhadap guru. Selain itu juga memacu guru untuk berbuat yang terbaik. Namun sangat disayangkan jika kriteria utama guru ideal seolah sebatas faktor banyak disukai. Karena orientasi menjadi guru yang disukai kadang menjadi dominan dalam kinerjanya, dan menjadi semacam tuntutan sekaligus obsesi para guru. Akibatnya para guru berlomba bahkan bersaing bukan untuk mengajar yang terbaik tapi untuk mengajar yang banyak disuka. Nah,lebih jauh lagi kriteria menyenangkan dan disukai banyak siswa, bisa memunculkan ketidak selarasan dengan fungsi dan peran guru yang seharusnya.

Yang Dominan Penilaian Siswa

Yang cukup memprihatikan jika penentuan guru ideal didominasi dari pihak siswa, dan tidak diimbangi dari penilaian Dewan Penilai obyektif dan independen. Karena hasilnya bisa cenderung tidak tepat dan tidak adil. Sebab menurut penulis, siswa itu belum mampu bersikap obyektif dan komprehensif untuk menilai sosok seorang guru. Terkadang aspek profesionalitas, kompetensi, dan moralitas guru dikesampingkan. Yang utama bagi kebanyakan siswa justru sekedar faktor menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Kriteria Menyenangkan Bisa Menyesatkan

Nah, yang repot jika untuk menyenangkan siswa guru harus banyak berkompromi dan bertoleransi pada berbagai tingkah siswa yang kadang justru jadi tugasnya untuk meluruskan. Karena khawatir dijauhi dan dianggap tidak menyenangkan, ada guru yang mengurangi komitmen dan fungsinya sebagai pendidik. Contoh kasus ketika menghadapi siswa yang merokok di sekolah. Guru yang komitmen dengan misi pendidik merasa wajib menegur dan memberi arahan pada siswa tersebut. Namun bagi guru yang takut kehilangan rasa suka dari siswa bisa jadi akan membiarkan dan pura-pura tidak tahu tingkah siswa tersebut.

Guru Gaul Bukan Berarti Mengabaikan Moralitas

Ada istilah guru gaul. Biasanya dijelaskan sebagai guru yang memahami pergaulan anak muda sekarang. Atau yang bisa menyelami jiwa anak muda. Tentu wajar saja jika masih dalam hal yang positif dan sehat. Dan boleh saja sebagai usaha agar disukai banyak siswa. Namun jika menyangkut pelanggaran moralitas dan susila, guru harusnya mengambil posisi tegas tidak memberi angin pada siswa untuk melakukannya. Bukan malah sebaliknya, demi predikat guru gaul, lalu bersikap longgar pada aktifitas siswa yang mengarah pada pelanggaran moralitas. Contoh, tidak selayaknya seorang guru terlibat pada aktifitas berpacaran anak didiknya, sekalipun dengan alasan gaul. Apalagi jika sampai memberi dukungan pada aktifitas  yang mengarah pada pelanggaran hukum dan susila.

Kriteria komprehensif: Guru Profesional sekaligus Inspiratif

Guru memang perlu bisa menyesuaikan diri dengan keadaan siswanya. Perlu punya kemampuan memahami potensi dan karakter anak didik. Namun guru ideal juga bukan sekedar mampu dekat dengan anak didik. Tapi juga memenuhi standar profesional dan komitmen seorang guru.

Memang perlu panduan baku dari otoritas Pendidikan untuk merumuskan kriteria guru ideal. Panduan penting agar tidak terjadi benturan antara fungsi dan peran guru dengan tuntutan banyak pihak dari seorang guru. Namun jika belum ada rumusan baku minimal bisa mendasarkan pada dua tipologi utama seorang guru, yaitu: guru profesional dan guru inspiratif.

Dalam sebuah artikel berjudul Guru Profesional atau Guru Ideal yang dimuat di kompasiana.com (2013) dijelaskan bahwa guru profesional harus memiliki 4 kompetensi, yaitu: pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.

Di sisi lain guru juga perlu mempunyai kemampuan inspiratif. Kemampuan inspiratif ini mencakup kemampuan memberi motivasi dan menjadi teladan bagi siswa. Nah, tentu dalam kemampuan ini juga termasuk kemampuan berempati dan  membuat senang anak didik.

Perpaduan kriteria Guru profesional dan Guru inspiratif  ini lah yang lebih komprehensif untuk menentukan sosok guru ideal. Jadi tidak hanya faktor menyenangkan dan banyak disukai siswa. Namun tentu kriteria ini belum bisa diterapkan secara umum di Lembaga Pendidikan karena memang bukan panduan resmi. Semoga kedepan otoritas Pendidikan bisa merumuskan kriteria guru ideal dengan standar komprehensif yang memperhatikan visi dan misi seorang guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *