Pendidikan

Mengenal Senandung Jolo, Budaya Tutur dari Jambi yang Hampir Punah

Indonesia memiliki 34 Provinsi dengan beragam bahasa dan budaya. Mari mengenal Senandung Jolo, budaya tutur dari Jambi yang keberadaannya hampir punah.

Written by Ghea Cahya Yulitha · 1 min read >

Indonesia terkenal dengan kekayaan bahasa dan budayanya. Terdapat 34 provinsi di Indonesia. Masing-masing memiliki warisan budaya yang beragam. Termasuk salah satunya adalah Provinsi Jambi dengan budaya tutur Senandung Jolo.

Mari mengenal Senandung Jolo, budaya tutur dari Jambi yang keberadaannya hampir punah.

Apa itu Senandung Jolo?

Senandung Jolo adalah warisan budaya Jambi dalam bentuk sastra tutur. Senandung berarti nyanyian dan Jolo berarti pantun. Jadi, Senandung Jolo merupakan pantun yang dinyanyikan.

Senandung Jolo berasal dari Dusun Tanjung, Kabupaten Muaro Jambi. Pada awal perkembangannya, Senandung Jolo dikenal sebagai curahan hati para petani saat sedang menunggu sawah. Bisa juga dinyanyikan oleh para nelayan yang sedang menebar jala dari perahu.

Pada masa sekarang, keberadaan Senandung Jolo telah berubah menjadi sebuah pertunjukkan seni. Pertunjukkan ini ditampilkan dengan diiringi alat musik tertentu. Jumlah anggotanya minimal dua orang dan banyaknya tidak dibatasi. Lama waktu pertunjukkan juga dapat disesuaikan tanpa patokan tertentu.

Ciri Khas Pertunjukkan

Sama seperti warisan budaya lainnya, Senandung Jolo juga memiliki ciri khas tersendiri yang membuatnya berbeda. Berikut adalah ciri-ciri musik Senandung Jolo yang akan membuat kamu menyukainya.

A. Lirik Berupa Pantun

Sesuai dengan artinya, lirik dari Senandung Jolo terdiri atas syair-syair pantun yang ditulis dalam bahasa sebrang khas Jambi. Penuturnya akan menyanyikan pantun secara berbalasan. Pantun berupa nasihat yang mengandung petunjuk atau petuah dalam menjalani kehidupan.

B. Menggunakan Alat Musik Gambang

Gambang merupakan sebuah alat musik unik yang terbuat dari kayu marelang. Terdiri atas empat bilah kayu dengan ukuran panjang yang berbeda sebagai penghasil nada. Dua batang kayu yang lebih kecil digunakan sebagai alat pukulnya.

Kamu bisa memainkannya dengan meletakkan keempat bilah kayu di atas kaki yang terjulur. Masing-masing bilah kayu dipukul secara bergantian untuk menghasilkan nada yang berbeda. Nada akan terdengar ringan dan nyaring akibat bobot kayu marelang yang ringan.

Tidak hanya alat musik gambang yang digunakan. Dalam pertunjukkannya, Senandung Jolo juga menggunakan alat musik gong, gendang, dan alat musik pukul lainnya yang dibunyikan bersamaan.

C. Ditampilkan Dalam Posisi Duduk

Satu hal lagi yang membuat Senandung Jolo menjadi kesenian tradisional Indonesia yang unik. Para penyair dan pemain musik akan menampilkan Senandung Jolo dalam posisi duduk. Hal ini telah dilakukan secara turun-temurun pada pentas manapun.

Fungsi Senandung Jolo

Banyak fungsi Senandung Jolo yang memberikan manfaat baik. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

A. Sebagai Hiburan

Kamu bisa menemukan Senandung Jolo sebagai hiburan pada pesta pernikahan, pesta panen, hingga acara-acara adat lainnya. Senandung Jolo dimainkan untuk menghibur warga yang kelelahan karena mempersiapkan acara. Meski begitu, Senandung Jolo bukan hal yang wajib ada dalam suatu pesta.

B. Sebagai Nasihat

Liriknya yang berupa pantun nasihat membuat kamu mendapatkan petunjuk dalam menjalankan kehidupan. Bisa berupa norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bisa juga tentang cara bersikap dan berpikir dalam kehidupan sehari-hari.

C. Sebagai Pemersatu Rakyat

Senandung Jolo berhasil menyatukan para petani ataupun nelayan yang sedang melakukan pekerjaannya. Jenis musik tradisional ini juga berhasil mempersatukan rakyat yang terhibur akan musiknya. Kamu bisa menikmati pertunjukkan ini tanpa merasakan perbedaan.

Hingga kini, hanya tetua adat di Muaro Jambi yang biasa membawakan Senandung Jolo. Budaya tutur ini terancam punah karena tidak banyak anak muda yang melestarikannya.

Semoga setelah mengenal Senandung Jolo ini, kita bisa sama-sama melestarikannya sebagai bagian dari seni musik tradisional di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *