Lainnya

Kenali Arti Bucin, Dampak, Penyebab, dan Penanggulangannya

Bucin itu apa sih? Pahami seluk beluk bucin agar kamu bisa mengelola cinta dengan baik dan benar.

Written by Farhan Akbar Muttaqi · 1 min read >

Istilah bucin dewasa ini marak digunakan. Terutama dikalangan anak muda. Meskipun, tak semua orang sudah tau artinya. Sebenarnya, kata ini merupakan akronim dari budak cinta.

Merujuk kepada makna budak, biasanya kata ini sering digunakan untuk menunjukan seseorang yang menjadi pesuruh dan penuh kerelaan untuk melakukan apapun demi tuannya. Nah, dalam pengertian bucin, maka maksudnya adalah orang yang rela melakukan apapun demi cinta.

Dampak Bucin

Sebagian psikolog, ada yang memasukan aktivitas yang marak dilakukan anak-anak muda ini sebagai penyakit. Hal ini bukan tanpa sebab. Faktanya, ada berbagai dampak negatif  yang dapat ditimbulkan jika seseorang  menjadi pengidap bucin.

Misalnya saja, hidupnya hanya fokus kepada sosok yang dicintanya dan lupa dengan urusan-ursan lain yang ada didalam hidupnya. Bahwa selain cinta, ada banyak masalah yang perlu juga diberikan perhatian. Apakah kamu sudah pada taraf ini?

Bukan hanya itu, jika kamu terus berada dalam kondisi ini, kamu juga akan mudah stres jika ada hal yang tak ideal dalam hubungan. Dalam titik tertentu, kamu mungkin bisa membaca berita, tak sedikit yang berani untuk bunuh diri gara-gara hal ini.

Penyebab Bucin

Tentu saja, segala yang terjadi ada sebabnya. Umumnya, sebab bucin adalah ketidakmampuan dalam mengelola rasa cinta. Sebagai manusia, mestinya kamu memahami bahwa yang namanya mencintai manusia itu tidak selalu menyenangkan.

Manusia adalah makhluk yang mungkin salah, berdusta, dan berkhianat. Sehingga sudah sewajarnya tak perlu berlebihan ketika mencintai seseorang. Bahkan toh, cepat atau lambat manusia itu pasti pergi karena dicabut nyawanya.

Ketika hal ini tidak dipahami, manusia berpotensi memposisikan orang yang dicintanya selayaknya Tuhan. Layak diberi persembahan, diperjuangkan, dan diberi segala pengorbanan dengan segenap apa yang dimiliki. Pada titik inilah sesungguhnya masalah terjadi.

Cara Menanggulangi

Jika kamu sudah terlanjur ada dalam posisi ini dan ingin keluar, maka kelolalah rasa cinta itu dengan sewajarnya. Bagaimana caranya?

Berdasarkan pengalaman, salah satu saran yang bisa kamu lakukan adalah dengan menyadari bahwa dalam kehidupan, ada banyak hal yang mesti kamu perjuangkan selain cinta. Baik itu pendidikan, karir, keluarga, hingga agama.

Coba kamu bandingkan, kerugian apa saja yang akan kamu dapatkan jika kamu tidak memperjuangkan hal-hal tersebut? Terpenjara menjadi seseorang yang diperbudak cinta akan membuatmu kehilangan waktu dan kesempatan memperjuangkan hal-hal lain.

Betapa menyedihkannya jika disaat orang lain fokus berprestasi di dunia pendidikan, merintis karir dengan gemilang, atau mengumpulkan uang untuk memberangkatkan orangtua ke tanah suci, kamu justru menghabiskan seluruh hidupmu untuk si dia. Jelas ini sebuah kerugian untukmu.

Masih mending jika si dia yang dimaksud adalah orang yang sudah sah jadi istrimu. Jika kamu sudah menjadi seorang suami, kamu memang sudah semestinya memperjuangkannya, meski tetap sewajarnya.

Namun, kalau itu belum sah gimana? Apa jadinya jika ia kemudian berkhianat dan memutuskan untuk menikah dengan lelaki lain. Toh, yang namanya pacaran itu hakikatnya bukan hubungan yang terikat dengan komitmen dan hukum yang kokoh.

Kesimpulan

Sesungguhnya mencintai seseorang itu hal yang fitrah kok. Tidak ada yang salah dengan rasa cinta. Namun, yang salah itu jika tak mampu mengelola cinta dengan benar.

Fenomena bucin yang kita bahas dalam artikel ini adalah salah satu bentuk kegagalan mengelola itu. Mudah-mudahan, setelah membaca ini, kita semua bisa lebih bijak dalam mencintai seseorang. Tak berlebihan dan sewajarnya saja.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *