Lainnya

Angka Kenaikan KDRT Melonjak Selama Masa Pandemi

Saat terjadi pandemi corona, anjuran di rumah saja terus dikampanyekan. Di saat bersamaan, KDRT melonjak selama masa pandemi. Bagaimana dapat terjadi dan...

Written by Hadi Suryo Winoto · 1 min read >

Berdiam diri selama masa pandemi bukanlah hal yang mudah bagi semua orang. Situasi ini sangatlah menyiksa bagi mereka yang menganggap rumah adalah sumber masalah. Fakta kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) melonjak selama masa pandemi adalah bukti bahwa diam di rumah menjadi masalah lain bagi sebagian orang.

Siapa saja dapat menjadi korban KDRT. Dari banyak kasus, KDRT terhadap istri masih menjadi kasus terbanyak. Wanita adalah kaum yang rentan menjadi korban KDRT. Selain secara fisiologis mereka lebih lemah, secara status sosial dan ekonomi wanita berada di bawah dibanding seorang pria yang menjadi suaminya.

Jika sebelum pandemi seorang istri dapat beraktivitas di luar rumah, saat pandemi ia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Situasi inilah yang memungkinkan istri mendapat KDRT dari suami. Keadaan pandemi yang serba tidak menentu, menambah kemungkinan KDRT antar suami-istri naik berkali lipat dibanding keadaan normal biasa.

Banyak negara di dunia mengalami masalah yang serupa, KDRT meningkat selama corona. Ketidaksiapan menghadapi pandemi saat ini adalah sebab munculnya KDRT. Beragam hal harus dikelola dengan baik agar mampu bertahan dan melewati pandemi ini. Mereka yang gagal mengelola, menumpahkan kekesalan dalam rumah tangga.

Penyebab munculnya KDRT saat pandemi adalah manajemen stres yang tidak baik. Pengelolaan emosi sangat penting di kala pandemi agar tidak muncul stres. Banyak orang yang telah gagal mempertahankan rasa bahagia dalam hidupnya pada masa pandemi ini. Padahal dalam segala kondisi apapun, kestabilan emosi tetap harus dijaga.

Saat pengelolaan emosi buruk, saat itulah riyak-riyak masalah dalam rumah tangga dapat menjadi ombak besar. Contoh kecilnya, perkara duit belanja saja dapat menjadi alasan suami-istri bertengkar. Pada saat seperti itulah segala hal yang terkait dengan pengeluaran uang selalu menjadi bahan uring-uringan.

KDRT selama pandemi corona bak jamur pada musim hujan. Cara mengatasinya ya dengan menutup media tempat tumbuh jamur. Sembari menunggu corona reda, opsi yang paling mungkin dilakukan adalah mengelola emosi agar tidak terjadi KDRT.

Pengelolaan emosi dapat dilakukan dengan beragam hal, salah satunya adalah dengan menciptakan momen yang menyegarkan. Berdiam diri di rumah secara terus menerus tanpa adanya momen yang menyegarkan membuat emosi tidak stabil. Butuh aktivitas-aktivitas yang mampu memberi ruang baru agar emosi tetap baik dan stabil.

Perlu jeda dalam setiap aktifitas yang seragam. Jeda inilah yang dapat membantu menyegarkan kembali emosi yang bertumpuk. Tumpukan emosi bak bom waktu apabila tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan emosi bertujuan untuk mengurai emosi-emosi yang negatif.

Ketidakmampuan mengelola emosi bukan hanya merugikan diri sendiri. Pasangan dan keluarga bisa menjadi korban dari ketidakmampuan tersebut. Padahal, musuh dari dalam diri haruslah dikalahkan terlebih dahulu sebelum menghadapi musuh dari luar. KDRT saat corona dapat diatasi jika emosi baik.

Cobalah sesekali ciptakan momen bersama pasangan. Di tengah kesibukan beraktivitas sendiri-sendiri atau hanya sekadar melamun, momen bersama pasangan akan memberikan jeda yang menyegarkan. Selain itu, hal tersebut mampu memperpendek jarak yang sebelumnya terbentuk antar suami-istri.

Belum pasti kapan berakhirnya pandemi corona, tetapi mengurangi masalah baru selain corona adalah sebuah keharusan. KDRT melonjak saat pandemi sangat mungkin untuk dicegah dan diatasi jika emosi dapat dikelola dengan baik. Pasangan suami-istri sudah seharusnya bekerja sama dalam segala hal, termasuk dalam menghadapi pandemi ini.

Written by Hadi Suryo Winoto
Call/WA +62 823-3925-4757 Address: Ujungbatu, Jepara, Central Java, Indonesia 59416 Profile

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *